Senin, 30 Juli 2012

Budaya Sunda Adalah Kesusastraan dan Pergelaran?

Kahudang ku seratan na kang Gibson, pamugi ieu tiasa janten bahan kangge "nambihan" wacana, emutaneun. boa enya urang téh salah ngahartikeun budaya sunda téh ?

mangga ieu seratan na : (hatur nuhun ka kang Gibson, punten pamendak na di cutat an, di sebarkeun, pamugi aya manfaatna).


Budaya Sunda Adalah Kesusastraan da Pergelaran
Oleh Drs. AHMAD GIBSON AL-BUSTOMI, M.Ag.

Keprihatinan masyarakat Sunda terhadap kelangsungan hidup dan eksistensi budaya Sunda sudah sampai di ambang frustrasi, khususnya dari kalangan budayawan dan pengamat budaya Sunda. Kekhawatiran tersebut tampak pada isu dan strategi yang mereka angkat dan mereka gulirkan dalam sejumlah media massa, khususnya media massa cetak dalam bentuk majalah, buletin dan jurnal budaya. Ada satu kesimpulan yang bisa kita ambil dari isu dan strategi yang mereka gulirkan, yaitu bahwa kebudayaan etnis Sunda identik dengan bahasa Sunda khususnya kesusastraan, baik dalam bentuk cerita fiksi (cerita pendek, cerita bersambung, puisi, cerita humor dan pergelaran), maupun dalam bentuk esai (artikel) yang juga berkenaan dengan persoalan tersebut. Beberapa persen tentang sejarah Sunda, biografi budayawan dan ”inohong” dan priayi Sunda dan "artikel" tentang kekecewaan pengamat budaya dan politik tentang kekecewaan serta kritik mereka terhadap politisi dan situasi politik khususnya tentang minimnya andil politisi orang Sunda dalam percaturan politik nasional. Dan, bisa dipastikan dengan tanpa pemikiran yang mengajukan alternatif penyelesaian.

Kita sebut saja (dengan tidak bermaksud mengecilkan arti penting dari peran dan jasa mereka dalam mempertahankan, menghidupkan dan mengembangkan kebudayaan Sunda) Majalah Sunda Mangle Panglipur, Swara Cangkurileung, Seni Budaya (BS), Cupumanik, dan yang lainnya serta sejumlah Home-Page tentang budaya dan masyarakat Sunda; secara keseluruhan menjadikan tema "sastra" dan pergelaran sebagai topik utamanya. Melihat hal tersebut, maka wajarlah bila budaya Sunda identik dengan "Sastra Sunda dan Pergelaran". Indikasi lain dapat pula kita lihat, terdapat karakteristik yang kurang lebih sama, kepedulian organisasi masa kedaerahan terbesar di Tatar Sunda, Damas, sebagai contoh, juga dengan tidak bermaksud mengecilkan arti penting dari peran dan jasa mereka dalam mempertahankan, menghidupkan dan mengembangkan kebudayaan Sunda. Organisasi ini lebih Concern terhadap persoalan yang kurang lebih sama. Lihat saja pada bidang penghargaan yang dianugerahkan oleh organisasi ini. Secara keseluruhan penghargaan yang diberikan adalah berkenaan dengan dunia sastra dan pementasan; kalaupun ada dalam bidang pendidikan hanya berkenaan dengan pendidikan bahasa Sunda, tidak yang lain.

Efek negatif dari fenomena ini adalah munculnya kesan bahwa orang Sunda yang peduli terhadap bangsa dan budaya Sunda hanya dari kalangan budayawan (yang dipersempit pada bidang sastra, pergelaran dan para ahli bahasa Sunda), sementara para petani, agamawan, ilmuwan dan orang Sunda yang berkecimpung dalam bidang lainnya "seolah-olah" dinafikan. Dan yang lebih memprihatinkan, bila kita ditanya tentang siapa saja masuk kategori inohong Sunda? Jawabannya mudah ditebak! Dan tentunya tidak perlu saya katakan. Lihat saja bila ada pertemuan para inohong Sunda di waktu-waktu yang telah lalu.

Barangkali kita perlu bertanya ulang, apa sesungguhnya yang disebut dengan kebudayaan? Khususnya kebudayaan Sunda. Pertama, dalam perspektif modern, kebudayaan lebih dilihat sebagai (pada sisi) proses kreatif bukan pada produk (artefak) budayanya. Proses kreatif yang melibatkan budi (pemikiran) dan daya (aksi) untuk kepentingan masyarakatnya. Kedua, kalau pun kita harus melihat kebudayaan dalam sisi produk, para ahli antropologi budaya sepakat bahwa produk atau wujud kebudayaan sangatlah banyak, bukan hanya dalam wujud karya sastra dan seni; yang disebut kebudayaan, tentunya juga termasuk kebudayaan lokal dalam hal ini kebudayaan Sunda, meliputi aspek yang sangat luas: seluruh wujud sebagai hasil dari aktivitas produktif dari manusia dalam kehidupan bermasyarakatnya.

Bila demikian, dan kita sepakat dengan makna (definisi) budaya yang dikemukakan oleh para ahli antropologi (budaya) maka media massa dan organisasi etnik Sunda, khususnya, yang berorientasi mempertahankan, menghidupkan dan mengembangkan kebudayaan Sunda harus juga mengembangkan perhatiannnya pada bidang-bidang tersebut. Kecuali, kalau memang media massa dan organisasi tersebut merupakan media masa dan organisasi yang secara ekplisit menyatakan diri bergerak dalam bidang tertentu, katakanlah dalam bidang: sastra atau pergelaran dan atau bidang spesifik lainnya. Karena, tentunya, kita tidak akan mau ikut-ikutan picik seperti media masa budaya dan organisasi sosal etnik lainnya.

Bila kita tetap bersitegang dengan cara pandang lama atau yang kini masih berlangsung, maka upaya kita untuk nanjeurkeun ajen-inajen ki Sunda tidak mustahil bila tidak mendapatkan respons dan dukungan dari masyarakat Sunda secara keseluruhan. Jangan-jangan sebenarnya mereka sangat concern dengan nasib kebudayaan Sunda, hanya concern mereka bukan dalam bidang sastra dan pergelaran. Bagi masyarakat demikian, tentunya tidak adil bila kita menyebut atau menuduh bahwa mereka tidak nyaah dan telah melupakan budayanya (Sunda) hanya gara-gara mereka tidak pernah membaca karya sastra Sunda dan tidak pernah menonton pergelaran karya seni Sunda, karena toh mereka pun tidak pernah membaca karya sastra dan pergelaran karya seni lainnya (selain sastra dan seni Sunda). Mungkin bagi merka, karena mayoritas masyarakat Sunda berada di bawah garis kemiskinan, mereka menganggap bahwa terlalu mahal dan mewah bila waktu dan uang mereka digunakan untuk membaca karya sastra dan menonton pergelaran, sementara kehidupan mereka sehari-hari pun koreh-koreh cok.

Mungkin karena memang akar budaya Sunda dibangun di atas sistem kehidupan (ladang kering) huma dan dibangun dari sistem sosial yang terdiri dari keluarga dekat (batih), maka lahirlah sikap yang cenderung individual (single fighter). Karena sikap individual tersebut, ketika kita memerlukan dukungan orang lain dan orang lain tidak mempedulikan kita dan tidak memberikan dukungan seperti yang kita harapkan, kita pun pada akhirnya cenderung sulit untuk memaklumi ketidakpedulian orang lain tersebut. Jangan-jangan ketidakpedulian mereka itu tiada lain karena kita pun tidak pernah berusaha untuk merangkul dan bersikap peduli terhadap persoalan (kehidupan) yang mereka hadapi dan alami. Atau, jangan-jangan hanya "perasaan" kitalah yang merasa tidak didukung. Seperti anak kecil yang pundung hanya karena tidak dibelikan permen oleh orang tuanya, kemudian merasa bahwa orang tuanya tidak sayang pada dirinya. Kita cenderung melakukan generalisasi terhadap satu fenomena atau persoalan "kecil" sebagai kenyataan dari seluruh fenomena dan persolan lainnya. Seperti telah digambarkan sebelumnya, gara-gara hanya sedikit yang membaca/mengonsumsi karya sastra Sunda, kita anggap bahwa hanya sedikit pula yang mencintai kebudayaan Sunda. Atau, hanya karena seorang elite politik Sunda tidak mendapatkan dukungan mayoritas dari masyarakat Sunda, maka kita cenderung menuduh bahwa mereka sama sekali tidak peduli dengan masa depan etnik Sunda.

Bila kita terus berpikir sedemikian sempit dan cenderung berpikir negatif (negative thinking) terhadap orang lain dan persoalan yang kita hadapi, maka bagaimana kita bisa secara bersama-sama bangun dari keterpurukan. Berkenaan dengan fenomena (mentalitas) ini akan sangat berarti apabila kita mengingat apa yang dikatakan K.H. Hasan Mustapa dalam salah satu dangdingnya: Katuhu paranti nyatu, Kenca paranti susuci, Mulya hina duanana, Milik aing nu sajati, Mun aing beurat sabeulah, Tandaning ngalain-lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar